Radio pemberontakan Bung Tomo berperan penting dalam perang di Surabaya 10 November 1945. Lewat radio di bangunan bersejarah di Jalan Mawar itu Bung Tomo membakar semangat para pemuda di Pulau Jawa mempertahankan Surabaya dari dentuman bom beserta jutaan peluru tentara NICA dan AFNEI.

Ben Anderson dalam Revolusi Pemuda menuliskan laporan bahwa Radio Pemberontakan, sebagai sarana untuk menciptakan solidaritas massa dan memperbesar semangat perjuangan pemuda. Ben tidak melebih-lebihkan laporannya, catatannya apolitis, apa adanya. Buktinya para pemuda dengan latar belakang dan pekerjaan yang berbeda bersolidaritas mempertahankan Surabaya.

Para pekerja di kereta api yang tergabung dalam Lasyak Buruh Kereta Api (LBKA) mengungsikan lokomotif dan kereta serta gerbong ke luar kota Surabaya agar tidak dimanfaatkan oleh musuh. Tanggal 11 November 1945, LBKA bersama pegawai kereta api di Stasiun Tanjung Perak menyelamatkan ratusan gerbong berisi beras, bahan makanan di emplasemen Stasiun Tanjung Perak.

Purnawan Basundoro dalam Rakyat Miskin dan Perebutan Ruang Kota di Surabaya mencatat LBKA mengamankan 150 gerbong berisi bahan makanan yang dirangkai dalam beberapa formasi. Makanan itu mereka bagikan secara sembunyi-sembunyi untuk para pejuang. Tidak hanya bahan makanan, kadang kala kereta api digunakan untuk mengirim persenjataan dan mengangkut korban-korban pertempuran.

Suara Bung Tomo juga sampai ke Yogyakarta saat para pemuda seluruh Indonesia apel akbar di Balai Agung 10 November. Mengetahui arek-arek Suroboyo membutuhkan relawan yang terbiasa dengan meriam, pimpinan Akademi Militer (AM), seperti yang dilaporkan Moehkardi dalam kata pengantar Akademi Militer dalam Perjuangan Pisik 1945-1949 mengirim 23 Taruna Militer dipimpin Mayjen Suwardi ke Surabaya. Ke-23 TM itu bersama Sastrodiworjo dan Karto menembus malam ke Stasiun Wonokromo Surabaya menggunakan kereta api.