Kereta api punya posisi penting di tiap zaman. Di awal kemerdekaan kereta adalah penanda sebenar-benarnya kebebasan dari penjajah bagi anak-anak muda. Sudah sewajarnya bangsa yang merdeka mengatur asetnya sendiri dan kereta adalah tanda pertama.

September 1945, Jakarta bergejolak. Puluhan ribu anak-anak muda mengambil alih Stasiun Manggarai dari Jepang setelah sebelumnya long march dari Stasiun Jakarta-Kota. Di salah satu badan kereta mereka menulis ‘Merdeka Atau Mati’. Anak-anak muda Bandung mengikuti jejak itu lalu lalu mengambil alih kereta.

Usai dua momen penting dalam sejarah perkereta apian Indonesia itu, kereta api turut mengantar republik mempertahankan kemerdekaan. Kereta api bukan lagi bongkahan yang tersusun dari baja dan kayu melainkan telah menjelma menjadi sesuatu yang mengakrabkan sekaligus mengekalkan ingatan orang pada peristiwa sejarah.

Gahetna.nl pernah merilis foto yang cukup hebat. Dalam foto itu Muhammad Hatta dan seorang tentara dari Divisi Siliwangi yang diangkut dengan kereta dari Cirebon tahun 1948 terlihat akrab. Padahal keduanya belum pernah bertemu. Dua tahun sebelumnya, Hatta sendiri pernah dalam situasi berbahaya dalam kereta.

Januari 1946, Sukarno-Hatta beserta keluarga dan penjabat publik menyelinap dari awasnya mata-mata Belanda. Dari Pegangsaan Timur mereka melesat ke Jogja dengan kereta yang bergerak tanpa penerangan. Di Jogja, Sultan Hamengku Buwono IX menunggu dengan sabar di ujung Peron. Sesekali gurat kekhawatiran tak bisa disembunyikan sebab di sanalah momen penting dalam hidup kerap terjadi karena batas antara duka dan bahagia tak pernah tegas.

Ketika kereta lamat-lamat tiba, Peron berubah menjadi altar bahagia. Sultan menyambut Sukarno-Hatta lalu cerita selanjutnya seperti yang kita tahu: Jogja menjadi ibu kota negara.